Pages

Wednesday, February 22, 2012

Tukang Parkir

Ketika Biennale Yogyakarta pada tahun 2010 lalu, seniman Theresia Agustina Sitompul,  merancang busana tukang parkir karena menurut dia profesi tukang parkir mungkin hanya ada di Indonesia. Mungkin saja benar. Tapi saya juga ingin menambahkan bahwa  tukang parkir yang menjadikannya profesi demikian serius kayaknya cuma ada di Yogyakarta. Teman-teman saya bahkan menganggap keberadaan mereka kayak benalu. 


Jalan-jalanlah ke semua sudut di sudut Yogyakarta. Gang mencit (cuma gang kecil) sekalipun, sudah ada yang mentongkrongi tukang parkir.  Modalnya pakai jaket orange dan sempritan. Mereka beroperasi bahkan tanpa tiket parkir sekalipun. Ini yang lebih aneh lagi, orang mengambil duit anjungan tunai mandiri (ATM)  yang sembari kita ambil duit cuma butuh waktu 5 menit  dan bisa memelototi kendaraan kita tanpa perlu dijaga, juga dipajaki, istilah kawan saya. Ada seorang mahasiswa bercerita,  dia mencek kiriman uang ke ATM. Uang belum terkirim, dia "dipajaki"Rp 1000 pula.


Teman lain juga bercerita, kasusnya di ATM juga. Dia mengambil uang transferan gaji. Eh ternyata belum  masuk. Uang di dompet tinggal recehan jumlahnya tak sampai Rp 500, karena itu yang dia punya. Begitu uang diberikan, si tukang parkir membuang uang itu ke jalan. Hampir menangis dia.
Padahal si tukang parkir tak memberikan sesobek kertas apapun sebagai tanda karcis parkir.


Cerita lain tentang teman saya. Dia seorang wartawan. Waduh...tiap kali kami liputan bersama hampir dipastikan dia akan  ribut dengan tukang parkir. Saya yang bersamanya sampai memerah. Tapi dia jelas tidak salah. Tiap kali dia dipungut uang parkir, maka dia meminta karcis parkir yang benar-benar baru. Si tukang parkir marah-marah. "Tidak ada karcis, tidak ada uang,"ujarnya. Dan dia tega tak mengeluarkan sesenpun uang jika si tukang parkir tak memberikan karcis parkir.  Itulah  yang  kadangkala bikin saya miris. Orang benar  minoritas, bisa malah salah atau dipersalahkan hanya gara-gara berani melawan. Sementara  kebanyakan orang memilih jalan yang aman-aman saja. Males ribut, males malu. Berdasarkan pengalaman saya,  si tukang parkir kebanyakan bermulut pedas jika kita menuntut karcis parkir yang menjadi hak kita.


Jika saya liputan, dalam sehari bisa mendatangi  banyak lokasi. Untuk makan saja, tiga tempat, itu berarti Rp 3000. Untuk lokasi liputan atau ada urusan ini itu, bisa Rp 3000-Rp 5000. Itu rutin. Jadi dalam sehari, saya sudah biasa mengeluarkan uang parkir Rp 8000. Jika dikalikan 30 hari saja, seharusnya saya sudah bisa memberikan pajak ke Yogyakarta hampir Rp 300.000. Nah, kalikan saja dengan jumlah penduduk di Yogyakarta untuk menghabiskan uang parkir. Tapi yang bikin saya heran, biaya retribusi parkir di semua kabupaten/kota ini kok ya nggak "sepiro" ya? Itu uang pajak lari kemana? Catatan, pengalaman ini tentu terlalu signifikan bagi warga yang tidak pernah mobile di rumah. Kalau cuma nongkrong di rumah, mana mungkin dia mengeluarkan uang parkir, bukan?


Nah, kecurangan-kecurangan kecil yang terjadi di depan mata ini kadang-kadang membuat saya mangkel. Saya dulu memilih  perang urat syaraf untuk mendapatkan karcis parkir. "Enak saja masuk kantong pribadi, mending aku  ribut biar bermanfaat untuk negara," begitu pikir saya.  Tapi kok ya lama-lama menghabiskan energi ya. Saya pun punya ide. Setiap saya memarkir kendaraan, saya terlebih dulu minta dengan sopan. "Pak, saya minta karcis parkirnya ya untuk laporan ke kantor." Wah manjur. Si tukang parkir menyambut dengan senyuman. Saya sebenarnya dag dig dug, awalnya. Jangan-jangan diomeli seperti yang sudah-sudah.


Karena mujarab, akhirnya trik ini terus saya gunakan ke tukang parkir mana saja. Berbohong sih. Tapi mending  bohong apa perang urat syaraf? Saya memilih bohong saja, daripada capek-capek cekcok cuma gara-gara uang Rp 1000. Hati juga lega bisa ikut berkontribusi meski sedikit membayar pajak retribusi ke pemerintah. Tapi ngomong-ngomong tiba-tiba saya kepikiran, kalau karcis parkir itu  dipalsukan, bukannya nggak ada efeknya? Haduhhhhh...Ya sudahlah.


Terakhir, saya cuma berharap melalui blog ini, mbok ya,  parkir di ATM dan gang-gang mencit di Yogyakarta itu ditertibkan. "Itu sudah keterlaluan,"kata teman saya seorang warga negara asing. Saya jelas setuju. Buat saya, tukang parkir bertebaran ke seluruh penjuru  itu bikin image jelek pemerintah. Rakyatnya  kapiran banget sih. Teman saya yang tinggal di Aceh bercerita, di daerah itu nyaris tidak ada tukang parkirnya. "Mereka gengsi terima uang Rp 1000 atau Rp 2000," katanya. Kota-kota lain yang pernah saya jelajahi juga hanya memberlakukan parkir di jalan-jalan protokol. Rumah makan kecuali yang terkenal hampir zero dari tukang parkir. ATM, gang-gang mencit hampir tidak ada  tukang parkirnya.  Kecuali ya kalau Yogyakarta bersedia mendapat sebutan kota tukang parkir. Mau?


Yogyakarta, 22 Februari 2012

Pukul 19.03

Friday, February 17, 2012

Trotoar

Salah satu pembenaran mengapa berat badan saya naik di sini  adalah karena jarang jalan kaki semenjak pindah ke Jogja (sudah ya ketawanya jangan keras-keras, lebih baik konsentrasikan membaca kalimat berikut ini). Kenapa saya jarang jalan kaki? Karena tidak ada trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki.

Baru saja saya pergi ke mini market dekat rumah (kurang lebih 300 meter) ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akhirnya saya lari sambil memakai kantong plastik sebagai penutup kepala. Seharusnya sih dua menit saja sudah sampai rumah tapi ya itu tadi trotoar penuh digunakan sebagai tempat parkir sepeda motor, pedagang kaki lima, dll. Lucunya para pedagang kaki lima itu marah loh bila saya berjalan melewati angkringannya atau lesehannya, maunya saya yang disuruh turun ke jalan raya. Aneh betul kan?

Mungkin ini juga yang menyebabkan orang lain juga malas berjalan kaki di sini, office boy di kantor misalnya kalau pergi jajan yang jaraknya mungkin hanya 300 meter saja naik sepeda motor. Setiap kali saya pergi jalan kaki, orang-orang selalu bertanya kok jalan toh mbak? Sepertinya sesuatu banget ya saya pergi berjalan kaki ? hehehehehe

Belum lama ini juga sempat beredar di youtube mengenai seorang ibu di Jakarta pengguna trotoar yang tidak mau memberi jalan ke pengendara sepeda motor yang naik ke atas trotoar. Saya sendiri belum lihat jadi hanya dapat cerita, katanya para pengendara sepeda motor sewaktu diwawancara malah mengatakan bahwa si ibu pejalan kaki itu tidak waras, bukannya mereka yang tidak waras naik sepeda motor ke di atas trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki.


Jadi ternyata fungsi dan tingkat kewarasan atau norma yang berlaku sudah bergeser ya? Pejalan kaki silahkan di jalan raya, pengendara motor dan pedagang silahkan menggunakan trotoar.



Sunday, February 12, 2012

Antara menerima,berusaha dan permisif

hasil jepret di SD Tumbuh 2 Yogyakarta
Menurut pengamatan saya selama ini, dalam hidup, ada beberapa hal di mana saya punya kuasa dan bisa merubahnya tetapi banyak hal di mana saya harus belajar untuk  menerima hal tersebut.


Contoh hal yang bisa saya rubah: menjaga mulut supaya tidak asal njeplak, merubah attitude saya terhadap orang-orang yang kurang saya suka, menjaga agar emosi tidak meledak-ledak.

Contoh hal yang tidak bisa dirubah dan perlu belajar untuk menerima kenyataan ini: macet di Jakarta. Mau saya nangis, maki-maki, mengomel seperti apapun tidak akan merubah kenyataan bahwa Jakarta itu memang macet! Harus diterima dan dinikmati sambil bersyukur bahwa saat ini saya hidup di Jogja hehehe
Contoh lain lagi yang buat saya cukup menohok (halah bahasanya lebay banget) adalah koneksi internet yang byar pet bikin emosi. Menurut teknisi 147 kemungkinan besar koneksi internet saya jadi lamban karena modem adsl rusak, modem rusak kemungkinan karena tegangan listrik naik turun. Hal ini membuat saya berpikir tentang contoh berikutnya mengenai hal-hal yang harus diterima yaitu mati listrik yang sering sekali terjadi di daerah tempat tinggal saya ini. Mati listrik di daerah ini sudah langganan sehingga Rurit sering mentertawakan status ngomel saya di blackberry, ya ya ya ... mentertawakan sampai akhirnya giliran dia yang kena mati listrik berkali-kali, hanya bisa misuh-misuh toh akhirnya?

Hal ini membuat saya jadi berpikir, seberapa permisif kah saya jadinya. Di mana batasan untuk mencoba mengerti atau memaklumi dan berjuang atas hak saya sebagai konsumen. Misalnya listrik, sebagai konsumen setia PLN seberapa hak saya untuk menuntut listrik menyala dengan semestinya dan tegangan listrik stabil. Sampai di mana batas maklum saya, apakah setiap hujan kemudian listrik mati itu wajar (menurut PLN itu normal)? Apakah karena saya dan anda begitu permisif PLN tidak merasa perlu memperbaiki servicenya?
Lah balada listrik mati ini ternyata rentetannya ke mana-mana, yang jelas alat-alat elektronik di rumah saya beberapa sudah mulai error dan saya yakin aliran listrik yang tidak menentu inilah penyebabnya. Apakah PLN mau bertanggung jawab membetulkan barang-barang saya? Pastinya tidak kan? Tapi mau protes juga percuma, karena toh tidak membawa hasil. Tapi apakah benar percuma? Masak sih bila masyarakat kompak protes ke PLN tidak akan membawa hasil? Tapi malas ah percuma juga demo gak ngefek, gitu kata teman saya, ya itulah yang membuat kita jadi permisif, pasrah, memaklumi saja daripada repot atau makan hati.... atau seperti Maztrie tulis di blognya, jadi membebek, jadi ya jangan heran kalau negara ini tidak maju-maju.

Saya jadi ingat, diawal abad ini ketika saya pulang ke Indonesia dan pergi belanja ke supermarket mendapat kembalian permen. Saya ingat betul saya protes habis-habisan sampai supervisornya Hero perlu dipanggil karena saya menolak dengan tegas diberi kembalian permen.  Akhirnya karena saya kalah suara dan adik saya udah merah mukanya karena malu, permen tersebut saya terima sebagai kembalian, dan besoknya saya balik lagi ke situ saya bayar yg recehnya dengan permen tersebut, eh ditolak! Kembali supervisor dipanggil dan tidak ada jalan keluar yang memuaskan, sekali lagi saya harus mengalah karena mengutip omongan adik saya; "Ya memang seperti itu di sini mbak!" Sekarang, tidak lagi saya temui fenomena kembalian dengan permen, kata teman saya akhirnya banyak yang protes sehingga kemudian dilarang, nah nyatanya itu bisa!



Ditulis sore-sore di kala hujan deras di Jogja sambil misuh-misuh karena koneksi internet lagi-lagi lebih lambat daripada semut!
ps. akhirnya malah mati,dilanjut nulis blog di HP!

Thursday, February 9, 2012

Cinta oh cinta

Cinta…tak ku mengerti…sekarang ingin…esok tak ingin…oh cinta…biar kucari … sampai kudapat … yg aku maksud … itu katanya Warna..salah satu lagu favorite saya. Definisi cinta emang macem2 … saya inget Om saya dulu nulis di pintu kamarnya gede2 : Cinta membuat tai kucing serasa coklat!!!

Takaran cinta pun berubah sesuai dengan umur dan jaman. Jaman masih SMP atau SMA dulu takarannya… pokoknya harus anak band!!! Pas SMA nambah, harus gondrong … kriteria yg bikin Papa saya suka stress ngeliat tamu-tamu yg mengunjungi anak perempuannya. Komentar standard si bokap: “Rambut gondrong, gak karuan…apa gak kelilipan itu matanya kalo naik motor??!!” Jawaban standard anaknya: “Alaa kayak Papa jaman dulu gak gondrong aja niru Beatles tuh… gondrong wagu malahan bulet-bulet gitu ” (anak kurang ajar emang yak hehehe).

Balik lagi ke takaran cinta tadi. Tiap orang punya takaran masing-masing. Temen saya ada yg ukurannya rajin ke gereja. Jadi walopun menurut saya itu cowo gak jelas niat baiknya ke temen saya itu, tapi berhubung tiap jam 6 pagi teng dia ke gereja Kota Baru sebelum berangkat ke sekolah…ya kepincut lah si temen saya itu (saya gak bilang ke dia bahwa si gondrong itu niat ke gereja krn mau ngecengin dia…. gak mau merusak ilusi indah dia ah).

Jaman udah kuliah ukuranpun berubah... berapa banyak yg kepincut sama teman di senat atau organisasi, saking kagum akan kepawaian si doi dalam memimpin. Tentu saja disamping hal-hal yg saya sebutkan tadi sih si cowo harus baik hati dong ya… itu udah gak perlu disebut lagi kan…

Udah mulai kerja, takaran untuk jatuh cinta menjadi semakin banyak… karena kan … ini bukan cinta monyet lagi… tapi udah serius ..ya toh? (Ngomong-ngomong kok bisa disebut cinta monyet itu dari mana ya? ) Jadi bukan hanya hal-hal yg tampak di permukaan aja yg penting, tapi mulai ngomongin hal-hal yg dalem… pandangan hidup, rencana masa depan, dll.

Bukannya saya mau bilang kalo cinta remaja itu dangkal loh… cuman ya beda aja sih. Dari hasil pengalaman saya sendiri dan mengamati adik-adik kelas itu. Pacaran jaman sekolah itu berantemnya palingan sebangsa…kenapa kok tadi jemput sekolahnya telat *ngambek* atau… kenapa kok tadi kamu boncengan sama cowo lain (makanya lain kali jangan telat dong jemputnya)*pasang tampang sangar, siap ngehajar itu cowo* Terus krisis sama ortu palingan sih sebangsa…ketangkap basah pergi sama pacar padahal ngakunya kelompok belajar, dll.

Setelah usia bertambah dan pacaran menjadi arena ajang menjajaki…semua menjadi lebih serius. Acara ngambek pun mulai berkurang. Perbedaan yg ada diusahakan diselesaikan dengan diskusi. Di tahap ini … lebih banyak logika yg berbicara, sehingga kadang hati dilupakan. Di tahap ini saya setuju banget sama temen saya yg bilang bahwa cinta itu menanggung beban berat, tapi tidak terasa berat… karena kan ditanggung berdua, baik susah maupun seneng.

Terkadang, kita terdorong untuk ‘jatuh cinta’ karena umur udah semakin nambah… desakan keluarga…. terpengaruh lingkungan (gak ada teman yg single lagi), membuat kita sering menanggung beban berat itu sendirian. Jangan dong ah. Ikutin Warna aja tuh di atas….Oh cinta…akan kucari …. sampai kudapat..yg aku maksud….

(reposting dari blog lama)

Wednesday, February 8, 2012

Gondrong belum tentu sangar


Jaman dulu bila ada cowo berambut gondrong (dan juga ber tattoo) kesannya itu cowok sangar, ugal-ugalan.... mungkin sudah tidak sesuai untuk jaman sekarang, tapi saya ingin berbagi  cerita lama ini yang sudah pernah saya tulis di blog personal saya.

Dulu setiap pembagian raport, murid tidak boleh mengambil sendiri harus orang tua atau wali murid. Nah, waktu saya kelas dua, ada satu anak JB yg udah mulai ngerayu beberapa minggu sebelumnya agar diijinkan menjadi wali murid saya. Ckk ckk … segitu inginnya mereka masuk sekolah saya dulu yg penuh dng segudang cewe sexy dan yg emang terkenal betul saat itu.

Setelah dibayarin nonton, diantar jemput sekolah, dibeliin silver queen (biasa deh pake acara jual mahal dikit hehehe) akhirnya saya setuju dan mulai ngerayu papa untuk membuat surat ijin. Untungnya saja anak JB satu ini udah kayak sodara sih sama kita, tapi bukan sodara beneran loh walopun dulu kita ngakunya sodara sepupu (ya ya saya ngaku deh di sini … buat anda-anda yg dulu nge fans berat sama cah JB satu ini … dia bukan sodara saya, cuman sama-sama dari Bali dan kebetulan tetangga pula), jadi si papa mau deh membuat surat wali…kebetulan dia masih ada 3 anak lagi yg harus diambil raportnya hari itu…jadi malah kebetulan :) 

Pas hari H .. si ‘sodara’ saya ini rada nervous … dan akhirnya minta ditemenin mantan anak JB lainnya. Ya udah deh saya cengar cengir aja … untung saya udah kelas dua waktu itu. Coba masih kelas satu, bisa besokannya di gojlok habis-habisan ama kakak kelas.
Eniwei … akhirnya hari itu saya bersama dua orang tinggi gondrong..satu putih, satu coklat manis … idola remaja… eh anak Stece waktu itu ;) datang ke sekolah. begitu masuk halaman … udah deh .. teman-teman udah mulai noleh… dan…wuzzzzzzzz berita tersebar begitu cepat…udah deh mulai pada teriak-teriak histeris …
Untuk yg belum pernah ke Stece: muridnya cewe semua, kira-kira ada 1000 murid (jadi silahkan bayangkan 1000 cewe teriak histeris kayak gimana). Bentuk bangunan sekolah seperti huruf U. Begitu masuk gerbang langsung halaman sekolah yg terletak di tengah, jadi benar-benar terbuka dan semua murid bisa lihat dari ruang kelas. Dan kelas saya waktu itu 2 Sos 1 itu paling pojok kiri atas lantai 3 yg untuk mencapai ke situ tangganya ada di tengah. Jadi kebayang dong begitu kita masuk itu dua cowo digerayangi dan disuitin dan diteriakin!!! Dan ternyata…. dua makhluk ganteng dan gondrong itu tidak berani berkutik … cuman dieeeeeeeeeeeeeeeemmmmmmm aja sambil bisik-bisik … “Kelasmu mana toh kok jauh bgt?” Jawaban saya, “Oh aku gak bilang ya kalo kelasku tuh paling pojok dan paling atas? Uppsss ….

Hehehehehe terbukti kan kalo gondrong belum tentu sangar dan bahwa anak JB tidak lebih berani daripada anak Stece. Nyatanya pas sekolah dimulai lagi dan si anak JB ‘sodara’ saya itu mau bolos sekolah, yang disuruh mengantar surat (dan juga menulis dan memalsukan tanda tangan) ke sekolahnya ya saya. Dan saya santai-santai aja tuh pake seragam kotak-kotak sendirian sebelum sekolah mampir ke sana dulu. Ya jujur aja sebenernya dalam hati deg-degan abis, tapi ternyata sampe sana pas saya disuitin malah dng pedenya dadah dadah ….tau gak maksudnya ? itu tuh  kayak Ibu Mega kalo pas kampanye hahahahahahahahaha

Keterangan:
Stece, nama keren dari SMA Stella Duce I di Jogja. Sekolah homogen yg isinya cewe semua.
JB, nama (maunya) keren dari SMA De Britto di Jogja juga. Sekolah homogen isinya cowo semua.
Dulunya jadi JB jadi satu ama Stece tapi terus pisah. Karena itu selalu ada seperti ‘ikatan batin’ antar dua SMA ini. Eh sekarang udah bukan SMA tapi SMU yah?