Pages

Sunday, December 11, 2011

Cabe

Sanggupkah kalian menyantap sesuatu tanpa cabe di dalamnya?  Apalagi kalau yang disantap makanan jenis bakso, soto, mi kuah. Ya ampun! Makan tanpa cabe itu buat saya ibarat masak sayur tanpa garam, pacaran dengan kekasih tetapi tak pernah menikmati kecupannya. Hehhe yang terakhir mah agak lebay.  Tetapi asli makan sesuatu tanpa ho hah ho hah itu sungguh garing, tawar, nggak berasa apa-apa rasanya.


Saya ingat ketika di bangku sekolah dasar,  kami punya acara  rujakan bareng teman-teman.  Ide rujakan  ini kami buat karena masing-masing punya pohon  sendiri, ada yang memiliki pepaya, mangga, jambu. Nenas dan timun, karena umumnya tidak kami miliki, maka membeli di pasar salah satu solusinya. Tapi biasanya saya yang berinisiatif membelinya. Nah, buah hasil  kebun masing-masing disatukan, lalu dibuatlah bumbu rujaknya. Asyik ya pesta rujakan ini?

Di kampung saya, rujakan lebih popular dengan sebutan lutisan. Sebelum menentukan siapa pembuat bumbunya, saya bersama membuat ritual hompimpahalaiyumgambreng. Hasil akhirnya pingsutan yang kalah akan menjadi pembuat lutisan. Pembuat lutisan juga disesuaikan dengan si pembuat. Kami yang menang cuma pasrah bongkokan dengan pembuat bumbu. Di larang protes jika bumbu rujak rasanya tidak enak.

Apa hubungannya dengan cabe? Tentu ada. Secara umum bumbu lutisan terdiri dari gula merah, cabe, asem, bawang putih, dan kacang tanah yang digoreng. Tetapi ada yang punya kebiasaan menambahkan kencur agar segar. Ada pula yang menambahkan  terasi, agar aromanya lebih kuat dan rasanya lebih bernas. Nah, cabe inilah yang menentukan  “serunya”  rujakan bersama di masa kecil saya.


Saya masih ingat, di kampung saya Sumatera Selatan itu, ukuran cabe itu bukan berapa biji untuk satu kali lutisan? Tetapi berapa kilogram cabe yang akan dimasukkan dalam rmuan lutis? Bayangkan saja kepedasannya. Kalau bumbu lutisan biasanya warna dominannya adalah coklat gula Jawa, maka lutisan bikinan kelompok masa kecil kami berwarna merah saga.


Biasanya kesepakatan kami selalu berakhir di angka seperempat kilogram saja. Itu saja sudah membikin bibir kami semua jontor, njedir, muka merah meruap, telinga sampai pekak (budeg) saking panasnya.  Keringat  bercucuran di mana-mana. Dan ups…maaf umbel produksi dadakan ini meler kemana-mana. Saya ingat karena kami masih belia, maka kami kerap mengenakan ujung  kaos bagian bawah atau kerah baju untuk menyisihkan umbel itu. Yekssssss…kalau ingat betapa joroknya kami, kadang-kadang jadi malu jika mengenangnya.


Ho hah ho hah…Cuma itu aja lontaran mulut kami sepanjang acara lutisan bersama ini. Dan sekitar setengah jam kemudian acara pesta rujakan ini bubar dengan diakhiri  mengaduh-aduh kepedasan. Beberapa di antaranya mengeluh perutnya sakit. Besoknya, ketika kami bertemu di sekolah satu sama lain mengaku mencret-mencret. Toh, pesta rujakan dengan cabe gila-gilaan terus berlangsung bertahun-tahun, sampai kemudian hanya menjadi kenangan manis semata. Setamat SMP saya sudah pindah ke tanah Jawa dan menandai berakhirnya pesta rujakan itu.

Kegilaan saya pada cabe terus terjadi. Di Yogyakarta, rujakan saya beli melalui pedagang keliling yang memberi isyarat lewat bunyi-bunyiannya yang khas. “tek…tek …tek…tek…” Kami biasanya anak-anak kos langsung menghambur keluar. Berebutan pesan. Nah ini dia. Karena ritual rujakan di kampung halaman dengan cabe yang melimpah, maka biasanya  rujak pesanan saya  dengan cabe 15 biji. Mbak-mbak kos sampai melotot ngeri ketika saya pesan cabe sebanyak itu.

Dan suatu hari ketika saya menginjak bangku SMA, peristiwa itu terjadilah. Saya mengeluhkan sakit perut yang tiada henti. Sampai-sampai saya sulit berjalan. Dokter kemudian memberikan berita yang mengejutkan saya harus dioperasi karena terkena usus buntu.

Cabe salah satu faktornya. Dan begitulah, sejak operasi itu, cabe adalah satu benda yang harus saya jauhi. Sungguh mulut saya kuat menahan kepedasannya, tetapi tidak untuk  perut saya. Setelah 17 tahun berlalu, perut saya kian tak mau diajak bekerjasama dengan cabe.

Jika saya pesan gado-gado atau pecel dengan cabe satu biji saja, perut saya melilit kesakitan. Hingga suatu hari saya merasakan dampak cabe yang begitu hebat untuk tubuh saya. Saya pernah tidak bisa jalan, bahkan untuk ke toilet sekalipun.
Sungguh menderita. Bagaimana obatnya? Saya biasanya minum norit dan menghentikan konsumsi cabe sama sekali. Maka dua hari sakit itu hilang sama sekali.


Tetapi gara-gara cabe itu pula, saya setidaknya sudah di opname di rumah sakit tiga kali karena  usus atau lambungnya terluka. Tidak hanya mampu berjalan, saya muntah-muntah  dan diare sampai 25 kali sehari.  Jika sudah begini, di infuse dan masuk rumah sakit satu-satunya  solusi. Terakhir sepekan lalu peristiwa itu terjadi. Tubuh ini lemas, lunglai, benar-benar seperti tidak berfungsi.


Setelah sepekan dihajar muntah dan diare, rasa-rasanya saya sudah  mantap menyatakan “perang melawan cabe”. Cabe dehhhhh…..


Yogyakarta, 9 Desmeber 2011.

Friday, December 9, 2011

KD, Raul, dan (Saya)

Ketika KD melakukan jumpa pers beberapa hari lalu, puluhan SMS mampir ke handphone saya. Macem-macem bunyinya. Tapi ada satu SMS yang cukup menggelitik sehingga mendorong saya menulis note ini. Bunyi SMS ini: "KD udah ngaku pacaran sama Raul. Masih mau ditahan juga tuh foto yang dijepret Rurit?

Apa hubungan KD, Raul, dan (saya)? Ini bermula ketika saya mendapat tugas meliput di negeri bekas provinsi ke-27 negara kita, Timor Leste, akhir Desember tahun lalu. Pertemuan itu tak sengaja. Saya diajak oleh Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao untuk hadir dalam acara ulang tahun Presiden Timor Leste Ramos Horta. Penawaran Pak PM hanya sesaat setelah usai wawancara selama dua jam setengah jam dari satu jam yang direncanakan.

Salah satu tugas dari kantor yang mesti saya lakoni adalah mewawancarai Pak Ramos Horta. Acara dadakan ini jelas di luar rencana saya. Tapi mendapat kesempatan tak terduga untuk wawancara Pak Ramos jelas seperti mendapat durian jatuh. Maklum, saya belum sempat memasukkan surat permohonan wawancara lantaran libur Natal kantor pemerintahan tutup.

Pak PM menjanjikan akan mengenalkan saya pada Pak Ramos untuk kepentingan wawancara tersebut. Pertemuan itu terjadilah. Sebelum acara peniupan lilin , kami bertiga bertemu. “Transaksi" permintaan wawancara kepada Pak Presdien berjalan mulus, cuma butuh waktu lima menit. Saya diterima Pak Presiden, pukul 10.00 tanggal 27 Desember, keesokan harinya, tanpa birokrasi yang ruwet. (Ah andai Indonesia seperti ini. Mungkin nggak ya?)

Pak PM, Pak Presiden, dan saya kemudian berpisah. (Ya jelaslah, saya, kan bukan first lady-nya?) Mereka kemudian ngobrol bersama tamu yang malam itu berjumlah tak lebih 150 orang.

Begitu sendirian, saya celingukan. Mata saya menyapu pada tamu undangan yang hadir, siapa tahu ada yang saya kenal. Saat itulah saya menangkap dua sosok yang begitu dikenal di Indonesia. Christine Hakim dan salah satu diva Indonesia, Kris Dayanti. Dari obrolan teman-teman dan media portal yang kadang saya baca, KD panggilan akrabnya, tengah menjadi perbincangan hangat karena terlibat kisah asmara dengan pengusaha asal Timor Leste, Raul Lemos. Menurut pemberitaan, Raul masih terikat hukum perkawinan dengan istrinya . Tapi kalau benar, kok berani betul ya Raul mengajak KD dalam acara resmi presiden yang pasti dihadiri oleh banyak tamu penting di negara itu. (Apalagi dari informasi yang dengar di TL, istri Raul, keponakan bekas Perdana Menteri Marie Alkatiri)

Malam itu, KD terlihat anggun dengan rambutnya yang disanggul. Dia mengenakan batik warna coklat tua. Wajah KD tak hentinya mengulum senyum. Bungah itu jelas terpancar dari matanya yang bersinar.

Tentu KD tak sendirian. Sesosok lelaki tinggi tegap, berkulit coklat, dan dandy, menemani KD. Lantaran belum pernah melihat wajahnya, saya hanya menduga dia Raul. Tapi apa peduli saya? Memikirkan harus menyiapkan wawancara dengan Pak Presiden keesokan harinya saja sudah membuat saya nervous. Jadi, mana sempat ngurusin yang begituan.

Merasa sesama Indonesia, saya menyalami Christin Hakim, dan memperkenalkan diri sebagai wartawan Tempo. Agak sok akrab memang. Tapi rasanya garing juga kalau saya cuma diam mematung. CH kelihatan cuek. Sebaliknya, KD menyapa dengan ramah. Kami pun ngobrol.

Kepada KD, pertanyaan saya datar, kapan tiba di Dili, ngapain datang ke acara ini, atas undangan siapa, berapa lama tinggal di Dili, apa komentar dia tentang Dili? Saya bahkan tak menanyakan nama pria yang terus digandeng KD sepanjang acara itu. Tapi KD sempat menyebut “Pak Raul” sebagai pengusaha Timor leste yang berpotensi memajukan Timor Leste. Dalam wawancara singkat kami, KD juga bercerita tentang album barunya bersama Siti Nurhaliza, penyanyi asal Malaysia.

Selama kami berbincang, sesekali KD melayani beberapa fans yang minta tandatangannya. Kadang-kadang ditengah obrolan kami, Raul membisikkan sesutu ke telinga KD. Begitu pula sebaliknya, ketika KD ingin berbicara dengan Raul, maka tubuhnya yang pendek berjinjit menjangkau kuping Raul. Sungguh serasi dan berseri-seri.

Tak lama setelah itu, cara di mulai. Untuk Pak Presiden, KD menyanyikan dua buah lagu, satu lagu Timor, dan lagu Barat berjudul When You Tell that you love me.

Sebelum acara selesai, saya pamit pulang lantaran sudah dijemput. Tapi saya minta di foto bersama KD atas permintaan kakak dan teman jika bertemu public figure. Penata rias KD yang khusus dia bawa dari Indonesia-lah yang menjepret pose kami.

Dengan profesi wartawan, mestinya saya punya banyak koleksi foto para artis, aktor, maupun pejabat. Tapi saya kurang menaruh minat. Satu-satunya public figure yang saya “ngotot” minta berfoto adalah bersama Wakil Presiden Boediono, yang sempat saya wawancara ketika masa kampanye. Saya mengagumi ketenangannya, kesantunannya, dan kecerdasannya.

Usai kami bertiga foto bersama, saya ijin menjepretkan kamera kepada mereka berdua. KD tak menolak, sebaliknya Raul agak keberatan. Kepada saya, KD berujar,“Ini eksklusif lho.Ini baru pertama kalinya foto kami berdua di depan publik yang dijepret wartawan.” Saya pun dengan polos bilang, “Wah beruntung dong saya.” Tapi Raul buru-buru menyela. “Fotonya jangan dijual ya.” Saya membalas pernyataan Raul. “Saya kan bukan koran gosip,” saya menjawab sekenanya. Maksud saya, bukan posi media tempat saya bernaung untuk membuat pemberitaan semacam ini. Ada yang lebih pas, yakni tabloid dan infotainment.

Kami lantas berpisah. Tak terduga, saat pulang ke Indonesia, kami satu pesawat. Begitu turun dari pesawat, saya berada dalam bus transit yang sama. KD-lah yang menyapa duluan. “Hei mbak ketemu lagi.” Dari cerita teman-teman dan artis yang pernah saya wawancara, KD dikenal orang yang ramah pada siapa saja. Dalam dandanan yang santai, KD jauh lebih terlihat segar. Rambutnya yang sebelumnya disanggul dibiarkan tergerai. Satu hal yang sama dengan pertemuan sebelumnya dia hangat dan selalu menyunggingkan senyum.

Begitu masuk bandara Bali, semua orang harus mengantri cap paspor. Padahal antrian sudah mengular. Ketika bermaksud mengantri, Raul menawarkan bantuan. “Sekalian saja kita urus.” “Wah kebetulan,” dalam hati saya. Paspor saya pun berpindah tangan dan diuruskan oleh orang Raul di bandara.

Selama kurang lebih 40 menit, saya mengobrol dengan KD. Raul hanya sesekali menimpali, itupun kalau saya tanya. Setelah urusan paspor kelar, kami berpisah. Kepada saya, KD bilang akan bertahun baru ke Hongkong bersama kakaknya yang lebih dulu berada di sana. Cerita pertemuan antara KD-Raul dan saya selesai sudah. Tapi ternyata tidak dengan urusan foto.

Begitu tiba di Indonesia, saya langsung liputan harian. Liputan Dili sempat saya lupakan. Tapi cerita KD soal album barunya, saya kirimkan untuk Koran.

Tak dinyana, seminggu setelah pemuatan di Koran pada bulan Januari, ada teman dari sebuah tabloid menanyakan apakah saya memiliki foto KD. Soal, bagaimana dia tahu kalau saya bertemu KD, saya duga dari tulisan yang sudah terbit. Saya berterus terang kalau memang memiliki foto KD. Dia berniat membeli foto yang menurut dia belum ada satu pun media yang memuatnya. Saya menolak karena berbagai alasan.

Dia mencecar saya dengan berbagai pertanyaan, antara lain alasan saya enggan memberikan foto itu. Saya sempat menjawab, “Karena memang bukan urusan saya.” Sang temen mash tetep ngotot. Dalam “perdebatan” itu, lama-lama, kok saya merasa menjadi korban intimidatif dia ya? Dia bilang soal jurnalisme, soal wartawan senior, dan bla bla bla. Waduh, kok malah saya yang jadi korban.

Teman saya “ngotot” memakai foto KD-Raul sebagai alat bukti yang menguatkan liputan mereka. Tapi di sisi lain, saya paham, mungkin dia mendapat tekanan dari kantor tempat dia bekerja, agar dengan cara apapun mendapat foto itu.

Tapi saya tetap tidak bersedia memberikan foto mereka berdua. Saya memang sempat memberikan tawaran, silahkan ambil foto, asal ijin KD, tapi dia menolaknya.

Setelah itu, tidak ada cerita lagi. Saya berpikir urusan ini selesai. Saya juga tak tertarik “berjualan” meski saya tahu nilai keeksklusifan foto KD-Raul. Hingga tiga bulan berjalan, tepatnya tiga minggu lalu, teman yang sama mencoba menghubungi saya kembali. Selain dia, ada teman media lain yang berminat terhadap foto itu tetapi tidak terlalu serius memang. Berbeda dengan tabloid teman saya yang memang benar-benar membutuhkan foto itu.

Dia meminta saya mempertimbangkan kembali pemuatan foto KD-Raul dan berkonsultasi dengan kantor Jakarta. Saya berkontak dengan redaksi di Jakarta dan mengatakan tidak akan memberikan foto itu. Rupanya urusan foto belum selesai. Pemimpin redaksi tempat dia bekerja, mengontak atasan saya, meminta koleksi foto KD. Bisa ditebak, urusan ini melebar. Bagian foto tak pernah menemukan foto itu lantaran tidak pernah saya laporkan di bagian pendataan foto. Atasan saya yang semula tidak tahu menjadi tahu.

Namun, teman dari Jakarta dan Biro menjelaskan duduk permasalahannya dengan para “petinggi” media kami. Beruntung, media tempat saya bernaung masih menghargai sikap saya . Mereka satu suara soal foto KD-Raul, menjadi hak saya untuk mengedarkan atau tidak, menjual atau menyimpan foto eksklusif itu.

Ada beberapa alasan saya keukuh tidak ingin mengedarkan foto itu saat semua media mencari foto mereka berdua. Pertama, urusan itu tak berdampak kepada publik. Sebagai contoh, kasus korupsi, penyelewengan jabatan dan kekuasaan dll. Kalau misalnya, KD atau Raul terlibat kriminal atau mereka terkena kasus korupsi yang melibatkan pejabat, bisa jadi foto itu saya edarkan. Tetapi untuk persoalan pribadi, itu bukan ranah saya.

Kedua komersialisasi industri infotainment sudah demikian mengerikan. Bombardir pemberitaan yang ditayangkan berulang-ulang terhadap satu kasus, membuat saya miris. Sebaliknya, masyarakat tak mendapat apapun, kecuali tontonan yang kurang mendidik.

Memang, jika foto itu tayang di tabloid, tak sedahsyat bila tayang di infotainment. Tapi bagaimana jika hasil jepretan di tabloid itu lantas dipakai oleh infotainment dan ditayangkan secara bombardir. Bukankah saya juga turut mendukung komersialisasi ini terjadi di depan mata?

Karena pemberitaan yang bombastis, orang bahkan lupa lagu-lagu yang dinyanyikan penyanyi, termasuk KD bisa menghibur kita yang tengah jatuh cinta, lara, bahagia. Saya tidak terlalu ngefans- amat dengan lagu-lagu KD. Cuma, kalau berkaraoke, saya tak pernah lupa menyanyikan dua buah lagunya, Menghitung hari dan Penantian.

Saya tidak pernah menyesal, foto itu hanya menjadi bagian koleksi pribadi semata. Meski ganjarannya, saya jelas tidak mendapat apa-apa, uang ataupun popularitas. Saya dengan sadar memilih itu. Alasan mendasarnya, saya ingin menyisakan ruang pada diri saya yang akhirnya saya bagikan juga di sini: secuil hati nurani yang belum mati. Saya percaya nurani tidak akan pernah mati, jika kita terus berusaha menjaganya.

Tanpa mengurangi rasa duka yang mendalam peristiwa Tanjung Priok, semoga sekeping kisah ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Yogyakarta, 15 April 2010

Thursday, December 8, 2011

Mengulang Tahun Bersama Sahabat, Iv

Selamat datang tahun yang di ulang. Tahun ini, meski bulan telah lewat satu purnama, kami, saya dan sahabat saya Eva (saya punya panggilan sayang untuk dia, Iv) memutuskan merayakannya di negeri yang pernah dinobatkan menjadi kota tercantik di Asia Tenggara, Saigon, Vietnam. Saigon kini bernama Hochiminh.

Usia saya hanya berselisih satu hari dengan Iv. Soal jarak usia, waw...jauh. Maksudnya saya jauh lebih tua. Soal umur, ndak usah dibahaslah ya hehehe. Bukan malu karena tua. Tetapi mengetahui usia seseorang seringkali membuat komunikasi menjadi berjarak. Ini  menurut saya lo. Saya tidak memaksakan diri jika ada yang berbeda dengan pendapat saya ;) Toh, meski usia berjarak, kami tetap fun dan mengelana bersama di negeri yang  oh my God...kami lebih sering menggunakan bahasa Tarzan.


Dari Yogya, tempat saya bermukim, saya menyiapkan lilin dan kado buat Iv. Saya memang melontarkan ide kepada Iv untuk  mengulang tahun kelahiran kami  dengan  bertukar kado dan membuat pesta kecil. Saya juga menyiapkan rok, yang aih....ternyata  muat di tubuh saya.  Pakaian yang saya kenakan hadiah dari seorang sahabat juga. saya tak percaya  rok itu muat mengingt tubuh saya segede gaban. Hiiiiiii....thanks sahabat untuk kadomu. Sepeertinya aku terlihat cantik  ya? hehehe.


Malam terakhir sebelum kami meninggalkan Vietnam, kami bikin acara itu. ah, Rere yang berangkat bersama kami, seolah  tahu ini malam kami berdua. Kameranya terarah pada kami berdua. Padahal biasanya, tertuju untukmu ya yeye. dan tentu saja,  dandan pol-polan dengan  salon Iv membuat saya yang memang tak pernah berdandan terlihat agak beda...kikikikikikik...


Kami berdua  tak memilih cafe yang mewah. Dengan rok yang begitu feminin  kami makan di pinggir jalan. Nggak  nyambung ching. Emang iya. Kenapa tidak? Kami memesan kepiting  dan kerang yang alamak enaknya. Lalu acara tukaran kado di mulai. Tak ketinggalan  dong, pakai acara meniup lilin yang saya bawa dari Indonesia (hehehe niat banget). Satu lilin kami tiup. Setelah acara tiup lilin kelar...Iv bertanya: "Make a wishnya apa?" Hah, saya bengong.  Tapi sedetik kemudian, saya sadar. “Saya nggak minta apa-apa.”

Iv memberi saya anting-anting kupu-kupu. Tapi  tepat di hari ulang tahun saya, dia memberi kata-kata bijak yang tak akan pernah saya lupa. “Semoga di hari yang indah ini, Mbak Rurit diberikan kebijaksanaan untuk dapat mengubah yang bisa diubah dan dapat menerima yang tidak dapat diubah dalam hidup, serta kebijaksanaan untuk dapat membedakan keduanya.” Bahkan saya masih terharu hingga saat ini.

Dan, terereng, perkenalkan lagi, nama saya Bernada Rurit. Saya belum menikah, dan sedang melakukan  perjalanan spiritual yang intensif sejak 2 tahun terakhir.   Lebih tepatnya perjalanan tanpa diri, sebuah proses yang terus menerus  akan saya lakukan hingga menutup mata.
                                                            ---

Nb:

Tahun kemarin merupakan  hal yang rumit dalam persahabatan saya meski  dalam beberapa saat, saya telah melewatinya dengan mulus.  Saya sempat  kebingungan dengan jawaban atas pertanyaan  yang saya ajukan  untuk diri saya.   “Mengapa seseorang bisa salah langkah dalam hidupnya?  Pertanyaan itu memiliki efek yang dahsyat karena  berpengaruh terhadap  interaksi dengani sahabat-sahabat saya.

Hingga suatu  hari, ketika saya memandang awan di atas jendela kamar saya, sebuah kata-kata bijak  mengalir dengan lembutnya. “Dalam hidup,  seseorang bisa salah langkah.”  Satu kalimat itu sudah menjelaskan banyak hal kepada saya. Saya tidak pernah mengajukan pertanyaan  itu lagi dan beban saya pun  terlepas. Seperti melayang di udara.

Wednesday, December 7, 2011

Tentang Musuh

Beberapa hari ini saya tergelitik  dengan kata musuh. Entah musuh dalam selimut, musuh boongan, atau musuh beneran. Siapa yang pernah musuhan? Atau kalaupun bukan musuh siapa yang pernah tidak disukai orng entah tanpa sebab atau karena alasan tertentu? Kalau belum saya acungi jempol. Seringkali musuh dianggap duri dalam daging. Kita bisa tidak nyenyak tidur, memikirkan perkataan-perkataannya atau sesuatu yang dilakukannya. Atau bisa pula ingin balas dendam karena tak terima dengan yang mereka lakukan. Padahal musuh atau orang yang tak menyukai kita, bukan tak berperan untuk penyadaran batin kita lo.

Saya teringat, ketika dai kondang Aa Gym ketika masih ngetop, memberi siraman rohani di salah satu televisi nasional. Topiknya tentang musuh. Terus terang saya masih ingat dengan baik siraman rohani yang cuma berlangsung beberapa menit saja dan ingin saya bagikan di sini. Mungkin tak persis sama, karena saya menggunakan bahasa saya sendiri dan beberapa hal memberikan penambahan di sana sini tanpa mengurangi maksud dan tujuannya.

Dalam siraman rohani  itu, dia menyampaikan  kita pasti akan berhadapan dengan musuh atau orang yang tidak menyukai kita. Tentu musuh atau orang yang tidak menyukai itu akan melontarkan hal-hal buruk tentang kita ketika berinteraksi dengan mereka. Pasti, kita akan sakit hati ketika mendengarnya. Padahal, menurut Aa Gym, pernyataan, ucapan, lontaran musuh atau orang yang tidak menyukai kita tak selamanya jelek bagi penyadaran diri kita. Mengapa? Karena, orang yang paling jujur menilai kepribadian kita apa adanya, justru biasanya musuh atau orang yang tidak menyukai kita.

Kalau kita punya sahabat, apalagi seiring senada, cenderung sungkan, enggan terus terang, mengatakan apa adanya tentang kita. Umumnya mereka hanya mengatakan hal yang baik-baik saja tentang kita. Bahkan kerapkali ketika jalan kita melenceng pun, dibiarkan saja. Tanpa disadari persahabatan yang tak jujur justru menjerumuskan sahabatnya ke dalam jurang kehancuran.

Seorang musuh atau orang yang tidak menyukai kita karena merasa benci, sebal, dendam, pada kita, maka cenderung akan melontarkan kekurangan-kekurangan kita. Semua yang jelek tentang kita dimuntahkan seperti peluru.
Biasanya begitu sang musuh mengatakan sesuatu tentang kita, maka kita akan marah dan berupaya membalas. Itu manusiawi. Tetapi jika kita merenungkan dan menyadari kembali ucapan musuh tadi, bisa jadi marah kita akan tertunda. Jangan-jangan apa yang mereka sampaikan ada benarnya.

Nah, kadang-kadang peran "musuh" memang dibutuhkan, untuk meneliti batin kita kembali dan mengajak kita masuk ke dalam diri. Bukankah kita seringkali sibuk dengan orang lain, bukannya diri kita? Benarkah yang mereka sampaikan itu? Karena bukankah kita dalam interaksi dengan orang lain kerapkali tidak menyadari batin kita bermasalah dan merugikan orang lain tanpa kita sadari?

Dengan keikhlasan, rendah hati, serta menyadari batin inilah, maka justru suatu saat kita akan merasa berterimakasih dengan "musuh" atau seseorang yang tidak menyukai kita karena telah memberikan penilaian tentang kita jujur, apa adanya. Justru penilaian jujur itu bukan dari sahabat yang kita sayangi. Musuh atau orang yang tak menyukai kita, selalu ada untuk menjaga terus kesadaran kita yang kerap kali "bablas". Melalui salah satu "musuh" inilah "eling" atau sadar itu bersama kita. Sehingga ketika tercerahkan, kita tak lagi menganggap musuh sebagai "musuh". Salam sadar setiap setiap.

Semoga bermanfaat untuk saya dan teman-teman.


Yogyakarta, 19 November 2011

Kulit putih itu cantik?

Sebuah fenomena yang saya perhatikan dari jauh adalah perubahan nilai estetika di Indonesia sejak pertengahan/akhir th 90an mengenai warna kulit seperti apa yang dianggap ideal.
Saya masih ingat dulu di iklan Citra (body lotion) kulit ideal adalah kulit berwarna sawo matang atau kuning langsat, sekarang iklan-iklan produk kecantikan menekankan bahwa cantik yang ideal adalah mereka yang berkulit putih.

Tentu saja cantik itu relatif. Tapi sekarang di Indonesia, dengan berkulit putih saja, paling tidak sudah mendekati cantik. Ini hanya hasil pengamatan pribadi saya sendiri loh. Dari komentar orang yang lama tidak bertemu saya biasanya “Ayu, ya ampun gemuk banget kamu sekarang! Tapi kamu putih loh sekarang.” Yang kemudian saya terjemahkan sebagai yah nggak apa-apa lah gemuk tapi putih, nggak parah kerusakannya hahahahahahahaha
Buat Amara, anak perempuan saya yang berumur 10 tahun, masalah kulit putih ini agak membingungkan, karena kulitnya sawo matang. Di Eropa, warna kulitnya ini banyak digilai dan Amara selalu mendapat pujian apalagi di musim panas karena kami sering berjemur sampai warnanya sawo matang banget….eh sesampai di Indonesia justru warna kulit yang digilai di Eropa tidak disukai dan banyak komentar dengan nada heran, "Amara kok item ya?" menyiratkan bahwa berkulit hitam atau coklat adalah jelek.


(ingin kulit coklat malah jadi orange)
Hal ini saya jadikan pembelajaran untuk Amara bahwa cantik itu relatif dan bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Di Eropa kulit sawo matang itu cantik, sehat, prestige. Kenapa prestige? Ya artinya ada duit untuk berlibur dan berjemur di pantai, untuk perawatan atau ke tanning studio atau beli produk-produk kulit agar menjadi berwarna karena kulit putih pucat justru kurang disukai. Di Indonesia, kurang lebih sama hanya bedanya warna kulit yang lebih prestige itu warna putih. Bahkan belum lama ini saya liat ada lowongan pekerjaan di salah satu provider selular di Jogja syaratnya adalah sebagai berikut: wanita, tinggi min 160cm, putih, dsb dsb. Kalau di luar negeri itu sudah masuk kategori rasis sebetulnya. Tapi mungkin provider tersebut ingin jaga nama dengan menampilkan customer service yang putih, karena putih itu cantik, putih itu prestige.

Buat saya sendiri sih, kulit yang cantik adalah kulit yang bersih dan sehat… mau putih atau coklat yang penting bersih dan sehat. Jadi, apakah berkulit putih itu pasti cantik?